Di sebuah kota di Galilea, ada seorang wanita yang dikenal luas sebagai pendosa

Di sebuah kota di Galilea, ada seorang wanita yang dikenal luas sebagai pendosa. 

Namanya tidak dicatat dalam Alkitab. 

Mungkin Tuhan sengaja membiarkannya anonim, supaya setiap orang yang pernah jatuh dalam dosa dapat melihat dirinya dalam kisah ini.

Suatu hari, ia mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah Simon, seorang Farisi. 

Rumah itu dipenuhi orang-orang terhormat, orang-orang yang merasa diri benar. 

Namun wanita ini datang membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal dan langkahnya mungkin gemetar. 

Tatapan sinis mungkin menusuk hatinya.

Bisikan-bisikan penghinaan mungkin terdengar di telinganya. 

Tetapi rasa haus akan pengampunan jauh lebih besar daripada rasa takut akan penolakan.

Ia berdiri di belakang Yesus, tepat di dekat kaki-Nya. 

Saat memandang Sang Juruselamat, air matanya tak tertahan. 

Air mata penyesalan, rasa syukur, dan kerinduan akan hidup baru mengalir deras, membasahi kaki Yesus.

Karena tidak membawa kain, ia melepaskan ikatan rambutnya—sebuah tindakan yang sangat berani bagi seorang wanita Yahudi pada masa itu. 

Dengan rambutnya, ia menyeka kaki Yesus. 

Lalu ia mencium kaki-Nya berulang kali dan mengurapinya dengan minyak wangi.

Simon, tuan rumah itu, menghakimi dalam hatinya. 

"Jika Ia nabi, tentu Ia tahu siapa perempuan ini." 

Namun Yesus mengetahui pikiran Simon. 

Ia menceritakan perumpamaan tentang dua orang berutang. 

Yang satu berutang sedikit, yang lain sangat banyak. 

Ketika keduanya dihapuskan utangnya, siapakah yang akan lebih mengasihi?

Simon menjawab, "Orang yang paling banyak dihapuskan utangnya."

Jawaban itu tepat. 

Yesus lalu menunjuk wanita tersebut. 

Ia membandingkan sikap Simon dengan kasih wanita itu. 

Simon tidak memberi air untuk membasuh kaki Yesus, tetapi wanita ini membasahi kaki-Nya dengan air mata. 

Simon tidak memberi ciuman, tetapi wanita ini terus mencium kaki-Nya. 

Simon tidak meminyaki kepala Yesus, tetapi wanita ini mengurapi kaki-Nya dengan minyak wangi.

Kemudian Yesus mengucapkan kata-kata yang mengubah hidupnya selamanya:
"Dosamu telah diampuni."

Betapa indahnya! Wanita yang datang dengan rasa malu pulang dengan hati damai. 

Ia datang membawa beban dosa, tetapi pulang membawa kebebasan. 

Ia datang sebagai pendosa, tetapi pulang sebagai orang yang dipulihkan.

Kisah ini mengajarkan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar bagi kasih Kristus. 

■ Orang yang paling sadar akan dosanya sering kali menjadi orang yang paling mengasihi Tuhan.

Pengampunan melahirkan kasih, dan kasih mendorong penyembahan sejati. 

Ketika kita menyadari betapa besar anugerah yang kita terima, hati kita pun akan tersungkur di kaki Yesus.

"Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih."  Kata Alkitab 
Lukas 7:47 

Kasih yang besar lahir dari pengampunan yang besar.

Tuhan Yesus memberkati 🙏

Postingan Populer