Memandang Melampaui yang Fana
Syalom! Tema yang Anda angkat ini sangat mendalam, diambil dari 2 Korintus 4:18.
Tema: Memandang Melampaui yang Fana
Nats: 2 Korintus 4:18
Pendahuluan
Kita hidup di dunia yang sangat visual. Kita cenderung menilai keberhasilan dari apa yang bisa dihitung: saldo rekening, gelar di belakang nama, atau jumlah "likes" di media sosial. Namun, Rasul Paulus memberikan sebuah paradoks yang mengejutkan:
Hal yang paling nyata dalam hidup justru adalah hal yang tidak bisa kita lihat dengan mata jasmani.
Mengapa Paulus bisa berkata demikian di tengah penderitaan yang ia alami? Karena ia mengerti perbedaan antara yang sementara dan yang kekal.
1. Keterbatasan Mata Jasmani (Yang Kelihatan itu Sementara)
Segala sesuatu yang kita lihat di sekeliling kita memiliki "tanggal kedaluwarsa".
* Tubuh kita: Semakin tua, kekuatan fisik akan menurun.
* Harta benda: Bisa rusak, hilang, atau dicuri.
* Status sosial: Bisa berubah dalam sekejap.
Paulus menyebut hal-hal ini sebagai "kemah"
(2 Korintus 5:1)—sesuatu yang bersifat sementara dan akan dibongkar.
Jika kita memusatkan seluruh energi dan kebahagiaan kita hanya pada yang kelihatan, kita akan mudah kecewa saat hal-hal tersebut goyah.
2. Fokus pada Realitas Surgawi (Yang Tak Kelihatan itu Kekal)
Apa saja yang tidak kelihatan namun kekal?
* Kasih Allah: Tidak pernah berubah oleh situasi apa pun.
* Janji Keselamatan: Jaminan kehidupan kekal di dalam Kristus.
* Karakter dan Iman: Inilah yang kita bawa sampai ke hadapan Tuhan.
Memperhatikan yang "tak kelihatan" bukan berarti kita mengabaikan tanggung jawab di dunia.
Sebaliknya, kita melakukan tugas di dunia dengan motivasi kekekalan. Kita bekerja bukan sekadar cari uang, tapi untuk memuliakan Tuhan. Kita mengasihi orang lain bukan supaya dipuji, tapi karena kasih Kristus yang tidak kelihatan itu diam di dalam kita.
3. Mengubah Perspektif terhadap Penderitaan
Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus menyebut penderitaannya sebagai "penderitaan ringan yang bersifat sementara." Padahal, Paulus dipenjara dan disiksa!
Bagaimana mungkin penderitaan berat dianggap ringan? Jawabannya ada pada skala perbandingan.
Jika dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang sedang dipersiapkan Tuhan, beban seberat apa pun di dunia ini akan terlihat kecil.
Fokus pada "yang kekal" memberikan kita kekuatan (ketabahan) untuk bertahan di masa sulit.
Kesimpulan
Dunia berkata, "Seeing is believing" (Melihat baru percaya).
Tetapi iman Kristen berkata,
"Believing is seeing" (Percaya membuat kita mampu melihat).
Jangan biarkan apa yang kita lihat hari ini—apakah itu kegagalan, sakit penyakit, atau kesulitan ekonomi—membuat kita putus asa.
Ingatlah bahwa semua itu ada batas waktunya.
Tetaplah memandang kepada Kristus, sumber pengharapan yang kekal.
> "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1)
>
Pertanyaan Refleksi:
Sudahkah investasi waktu dan pikiran kita hari ini lebih banyak tertuju pada hal-hal yang akan musnah,
atau pada hal-hal yang memiliki nilai kekal?
